Monday, 30 March 2020

Situs Sejarah di Kabupaten Kediri

Candi-Tegowangi-kompresBung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama pernah berpesan dalam pidato kebangsaannya bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah”. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak sejarah, baik pada zaman prasejarah maupun pada zaman reformasi seperti saat ini. Indonesia juga pernah mengalami zaman keemasan saat masa kerajaan Majapahit.

Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya candi di Indonesia. Salah satu candi di Kediri menjadi saksi bisunya. Candi Tegowangi, candi yang memiliki latar belakang agama Hindu terletak di Kecamatan Palemahan. Tepatnya di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi. Karena adanya candi inilah, desa ini disebut dengan Desa Tegowangi.

Sebagai bangsa yang baik, sebaiknya bukan hanya mal saja yang sering kita kunjungi. Sesekali mari kita menengok salah satu situs sejarah di dekat kita. Jika kita akan mengunjungi Candi Tegowangi ini, dari monumen Simpang Lima Gumul kita bisa mengambil jalur arah ke Pare sesuai papan petunjuk jalan.

Sampai di Jalan Soekarno, selanjutnya kita akan bertemu dengan perempatan kemudian mengambil jalan ke Pare sekitar 500 meter dari pertigaan belok ke kanan. Dari jalan Mejono sekitar 1,5 km lurus saja sampai pertigaan ke arah candi. Sekitar 30 menit saja kita sudah sampai ke kawasan Candi Tegowangi. Memang agak sulit akses menuju candi, selain karena jalannya yang rumit kalau belum hafal betul daerah Pare juga karena akses menuju candi yang belum beraspal, masih berupa jalanan tanah. Jika bingung dari penjelasan di atas, kita bisa menggunakan google maps dan dapat dipastikan tidak akan nyasar.

Lokasi Candi Tegowangi tidak jauh dari gerbang pintu masuk yang ditandai dengan adanya warga yang memproduksi madu dan ternak lebah. Papan nama yang sudah terlihat tua dan hanya ala kadarnya berada di dekat areal candi. Situs sejarah ini tidak dijaga oleh petugas keamanan atau juru kunci, jadi siapa saja diperbolehkan masuk dan melihat candi tanpa dipungut biaya alias gratis. Candi Tegowangi disebut juga dengan candi kecil karena ukurannya yang memang kecil.

Candi merupakan sebuah bangunan tempat ibadah umat Hindu. Sejarah dari candi Tegowangi menurut kitab Pararaton merupakan tempat pendharmaan Bhre Matahun atau tempat suci yang digunakan untuk menyimpan abu jenazah setelah jasadnya selesai dingaben atau dibakar. Bhre Matahun dalam sejarah biasa disebut Rajasawardhana.

Dalam kitab Negarakertagama, silsilahnya Bhre Matahun adalah suami dari Indudewi alias Bhre Asem putri Rajadewi dan Wijayarajasa. Dari pernikahan tersebut lahir Nagarawardhani yang menikah dengan Bhre Wirabhumi putra Hayam Wuruk yang menjadi raja Majapahit pada saat itu. Disebutkan pula dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, bahwa Bhre Matahun meninggal pada tahun 1310 Saka atau 1388 Masehi dan pendharmaannya dilakukan 12 tahun setelah meninggal berarti 1400 Masehi sehingga dapat diperkirakan candi ini sudah berusia 616 tahun.

Seperti bangunan candi pada umumnya, Candi Tegowangi berada di tempat terbuka. Dikelilingi pohon yang rindang dan rimbun, tanaman–tanaman di sini tertata rapi. Namun tidak ada tempat duduk bagi pengunjung, hanya ada tempat duduk di dekat pos kecil sebagai pusat informasi. Pos ini berdinding kaca yang berisikan informasi sejarah candi dan berbentuk seperti pos koran yang biasa kita baca dan lihat dengan berdiri layaknya sebuah majalah dinding.

Ukiran-Candi-Tegowangi-kompres

Ukiran candi Tegowangi yang berbentuk undakan terlihat masih belum direnovasi dengan baik berbentuk seperti reruntuhan. Meski belum mendapat banyak perhatian masyarakat, namun candi ini tertata rapi dan bersih. Sisa reruntuhan batu bata tidak tercecer, melainkan berbaris rapi bersama dengan penemuan arca–arca di Kabupaten Kediri. Beberapa arca yang tertata rapi di pelataran candi, di antaranya adalah arca Parwati dan arca Ardhanari. Tidak ada sampah yang berserakan, hanya ada beberapa sampah dari daun kering yang jatuh dari pohon.

Pada bagian bawah sudut candi ini dihiasi dengan relief berbentuk daun dan sulur. Bangunan candi ini berbentuk bujur sangkar sempurna berukuran kira–kira 12 m x 12 m, dengan tinggi lebih dari 4 meter. Posisi candi menghadap ke arah barat. Pondasi dan dinding candi terbuat dari batu bata dengan bagian kaki dan lainnya terbuat dari batuan jenis andesit.

 Gana, sebuah relief raksasa, sedang duduk dengan lutut yang menekuk dengan kedua tangannya menyorong ke atas seperti menopang bangunan candi. Di setiap sisi Candi Tegowangi terdapat relief Gana ini dengan bentuk yang berbeda-beda. Gana atau biasa disebut Siwaduta adalah makhluk kecil pengiring Siwa.

Gana-kompress

Tubuh candi memiliki bilik dengan cerat atau sebuah pancuran yang berbentuk naga. Tonjolan batu berukir berada di atas relief Gana yang melingkari kaki candi, dan di atasnya ada genta berhias relief. Candi Tegowangi memiliki ciri khas relief yang melingkari dindingnya sehingga banyak relief di setiap sisinya. Jumlah keseluruhannya terdapat 14 panel, dengan 3 panel di bagian utara, 8 panel di bagian barat dan 3 panel di bagian selatan.

Panel pada relief ini berisi cerita Sudamala. Relief Kakawin Sudamala yang bercerita tentang ruwat atau pensucian Dewi Durga dengan bentuk raksasa yang jelek dan jahat berubah menjadi Dewi Uma dalam bentuknya yang cantik jelita dan baik. Pada saat ritual, pensucian dilakukan oleh Sadewa yang merupakan anak bungsu dari Pandawa dan dibantu oleh Betara Guru.

Tidak heran jika Kabupaten Kediri tidak kalah dengan kota–kota besar lain. Selain kita bisa menikmati wisata alam dan wisata religi, Kediri juga memiliki banyak situs sejarah. Setelah menengok candi Tegowangi, kita juga bisa mengunjungi Candi Surowono yang terletak di Desa Cangu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Dari lokasi Candi Tegowangi hanya berjarak sekitar 5 km.

Aksesnya tidak terlalu sulit. Keluar dari Candi Tegowangi belok ke kiri, kemudian lurus saja sekitar 150 meter dan belok ke kiri lagi, kira - kira 1 km dari kiri jalan kita bisa melihat indahnya Candi Surowono. Candi ini cukup terkenal karena berada dekat dengan wilayah kampung Inggris Pare sehingga banyak sekali yang mengunjungi candi ini. Tidak hanya warga lokal namun banyak juga pelajar dari luar kota yang penasaran untuk berkunjung ke candi ini.

Candi-Surowono-kompressCandi Surowono atau disebut juga Candi Wishnubhawanapura adalah candi peninggalan kerajaan Majapahit dengan latar belakang agama Hindu. Candi Surowono dibangun pada tahun 1400 Masehi. Dulunya candi ini digunakan untuk upacara sraddha bagi Bhre Wengker. Upacara ini adalah ritual yang dilakukan untuk mengenang 12 tahun kematiannya. Tertulis bahwa Candi Surowono digunakan sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu pada kitab Negarakertagama.

Ukuran candi memang kecil, tapi candi ini sangat indah dan menarik untuk dikunjungi. Pada bagian atas candi sudah tidak terlihat utuh, sudah lenyap dan belum diketahui ada di mana. Sedangkan pada sisi lain masih ada namun agak rusak sehingga perlu diperbaiki. Yang membuat unik dari candi ini adalah bentuk relief Gana yang merupakan pelayan yang dipilih Ganesha untuk melayani Shiwa. Relief ini berbentuk patung raksasa yang besar. Banyak pesan yang dapat kita ambil dari relief-relief pada Candi Surowono.

Tanaman-di-Sekitar-Candi-kompres

Di sekeliling candi tertata bunga dan tanaman yang disusun rapi dan terawat dengan taman dan rumput yang hijau. Ada banyak batuan yang berada di samping sisi candi, yang harusnya bisa disusun kembali. Ada pula balok yang tersusun memanjang. Jika kita amati memang ada beberapa arca yang sudah agak rusak, di antaranya adalah arca Resi Agastya dengan tanpa bagian bawah dan bagian atasnya sebagian juga sudah rusak. Arca ini terlihat seperti pendeta dengan janggut berhias pada telinga dan leher dengan tangannya menyangga ke atas. Banyak hal yang menarik jika kita pergi ke situs sejarah dan tentunya banyak pesan moral yang dapat kita ambil.