Monday, 30 March 2020

Wisata Religi Kediri

Gerejapuhsarang-kompressKabupaten Kediri merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang patut untuk dikunjungi. Selain dikenal dengan banyak wisata alam dan sejarah kerajaannya, salah satu keunggulan lainnya adalah kita dapat mengunjungi beberapa wisata religi disini. Salah satunya yang sangat populer adalah Gereja Poh Sarang dan Petilasan Jayabaya.

Geraja Poh Sarang terletak di kaki Gunung Wilis dengan suhu udara yang sejuk, tepatnya berlokasi di Jalan Raya Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Apabila ingin mengunjungi Gereja ini, dapat menginap di hotel yang berada di kediri. Sekarang sudah banyak hotel di Kediri yang dapat dipesan melalui aplikasi Traveloka. Gereja Poh Sarang merupakan gereja tua yang dibangun pada tahun 15 Juli 1936 dan digunakan sebagai tempat ibadah umat Katolik. Gereja Poh Sarang memiliki luas kurang lebih 10 hektar.

Poh Sarang adalah gereja yang dibangun dengan inisiatif pribadi dari Ir. Maclaine Pont dengan arsitektur bangunan yang didesain oleh Pastor Romo Jan Wolters CM. Bangunan gereja ini dikenal unik dan indah dengan perpaduan Jawa Majapahit dan Eropa yang menambah kesan lebih menawan. Dengan tambahan bangunan yang mirip dengan candi dan dinding yang terstruktur dari tumpukan batu-batu, membuat Gereja Poh Sarang ini juga terkenal dengan sebutan Gereja Batu.

Gereja ini selalu ramai dikunjungi setiap harinya, terlebih pada hari Jumat Legi, Misa Novena dan Natal, baik turis domestik maupun mancanegara. Tidak hanya umat Kristen yang ingin berwisata religi untuk melakukan kegiatan rohani dengan berdoa dan ziarah, banyak pula pengunjung yang ingin datang untuk sekedar berjalan-jalan dan mengambil foto di tempat ini. Para pengunjung diminta untuk tetap menjaga suasana yang tenang, tidak membuat gaduh untuk menghormati para peziarah yang sedang bermeditasi.

  Gapura-Selamat-Datang-kompress

Di gapura selamat datang dari batu dengan bentuk melengkung, kita disambut dengan bangunan layaknya khas Minangkabau dan ukiran patung Yesus. Di sampingnya terdapat pendopo atau biasa disebut gedung serba guna emas yang atapnya dirancang seperti cupola atau kubah. Untuk sampai ke Gua Maria, kita harus berjalan terlebih dahulu sekitar 300 meter dari area parkir.

Banyak penjual yang menjajakan souvenir seperti tasbih, lilin atau buku kisah Yesus dan kerajinan tangan khas Kediri. Banyak pula warung makanan yang menjual olahan babi dan bekicot. Para pengunjung hanya diperkenankan makan di luar gua. Di perjalanan yang melewati ruko-ruko ini juga kita temukan banyak anjing berkeliaran, namun jangan khawatir, anjing ini tidak akan mengganggu para pejalan kaki.

Sebelum masuk ke gereja, terdapat ruang gamelan yang digunakan sebagai musik pengiring saat misa dan sendratari. Di sampingnya terdapat area luas seperti taman yang dulunya biasa digunakan sebagai tempat pementasan drama, dan kini terdapat patung Bunda Maria yang memakai mahkota. Di kompleks gereja juga terdapat pemakaman umum Katolik yang biasanya digunakan untuk pemakaman para pastur agung.

goa-maria-kompress

Selain bangunannya yang unik, gereja ini juga bernuansa outdoor dengan banyak tumbuhan rindang, bunga mawar dan bunga kantil yang tertata rapi yang membuat para peziarah merasa lebih nyaman dalam beribadah. Tidak ada bangunan dengan dinding yang tertutup di kawasan gereja ini. Patung Maria Lourdes dengan tinggi lebih dari tiga meter dengan lelehan lilin-lilin yang selalu menyala menjulang tinggi di Gua Maria Lourdes. Gua dan patung ini merupakan replika dari Gua Lourdes (Lourdes Mary Cave) dan patung Maria yang berada di Perancis. Juga terdapat air suci di sebelah kanan altar yang diyakini bagi para peziarah dapat berkhasiat sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Berdekatan dengan Gua Maria, ada pula Jalan Salib Bukit Golgota dan Taman Kana. Jalan Salib merupakan jalan alam dengan 15 stasi. Patung besar berwarna kuning emas dengan ukiran yang halus dan indah yang menggambarkan perjalanan Yesus yang terdapat di dalam kitab Injil.

Cerita dimulai saat Yesus dikenai hukuman mati di rumah Pilatus, yang dikuasai oleh Yerusalem sampai Yesus diangkat ke surga. Jarak antara stasi satu dengan stasi lainnya cukup jauh, sehingga kita harus siap untuk berjalan jauh. Lebih dari 100 patung terdapat di stasi ini dan membuat cerita lebih terasa hidup. Banyak peziarah yang memanjatkan doa di jalan salib ini.

Bagi pengunjung dari luar kota, banyak disediakan wisma untuk menginap. Jika ingin mengadakan beberapa agenda kegiatan rohani juga bisa memilih tempat penginapan dengan fasilitas tertentu.

Tidak hanya gereja yang banyak dikunjungi oleh turis dari luar kota maupun luar negeri, kita juga bisa mengunjungi Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya. Terletak di Desa Menang, tepatnya 2 km dari Simpang Lima Gumul. Bangunan spiritual ini merupakan pusat wilayah Petilasan Sri Aji Jayabaya. Petilasan sendiri diambil dari bahasa Jawa “tilas” yang berarti suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang. Petilasan Sri Aji Jayabaya ini menjadi bagian wilayah keraton Kediri.

petilasan-jayabaya-kompress

Jika kita menengok sejarahnya, Raja Jayabaya dianggap sebagai jelmaan Wisnu yang terdapat dalam kitab Bharatayudha, kitab yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Pada masa pemerintahannya, Raja Jayabaya tidak banyak meninggalkan bangunan, namun memberikan kesusateraan yang bernilai tinggi.

Raja Jayabaya juga terkenal dengan ramalannya yang disebut dengan Jangka Jayabaya yang artinya sering sekali diperbincangkan. Salah satu ramalannya adalah “Akeh janji ora ditepati, akeh wong nglanggar sumpahe dewe. Manungso podho seneng nyalah. Tan nindake hukume Allah. Barang jahat diangkat-angkat, barang suci dibenci”. Hal ini mirip dengan kehidupan jaman sekarang, banyak manusia yang melanggar janji-janji yang telah diumbarnya, janji yang tidak ditepati dan sesama manusia yang saling menyalahkan.

Lokasi petilasan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bentuk bangunan Loka Muksa memiliki tiga pintu yang dikelilingi pagar dari beton yang memiliki arti bahwa kehidupan manusia memiliki tiga tingkatan, yaitu lahir, dewasa dan mati. Dilengkapi dengan lingga dan yoni yang menyatu ditambah dengan batu manik yang berlubang (batu bulat berlubang ditengahnya seperti mata).

Lingga dan yoni sendiri berarti bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan makhluknya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Manik atau mata merupakan kewaskitaan. Sebelumnya petilasan Sang Prabu Sri Jayabaya hanya tanah yang bernisan di bawah pohon kemuning dengan semak belukar dan batu-batu yang berserakan.

Peningkatan jumlah pengunjung setelah proses pemugaran terbukti dengan diselenggarakannya banyak kegiatan rutin setiap tahunnya. Kegiatan rutin diadakan pada malam Jumat Legi dan Selasa kliwon. Banyak orang meyakini dan mengunjungi tempat ini untuk melakukan sembahyang dan berziarah agar apa yang diinginkannya dikabulkan. Seperti ingin masuk sekolah bagus, ingin mendapat pekerjaan yang baik, atau yang ingin memimpin suatu daerah.

Selain itu juga rutin diadakan upacara resmi pada tanggal 1 Suro dengan rangkaian acara seperti ziarah kepada Sang Prabu Sri Aji Jayabaya, upacara tabur bunga dan upacara bersih desa. Upacara bersih desa merupakan upacara untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan rakyat Desa Menang dan Bangsa Indonesia pada umumnya. Upacara ziarah 1 Suro ini mencapai 15.000 hingga 30.000 pengunjung.